all about music

Kamis, 01 Maret 2012

Sekilas tentang karawitan


Karawitan Sekar ==
Karawitan Sekar merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya   lebih mengutamakan terhadap unsur vokal atau suara manusia.
Karawitan sekar sangat mementingkan unsur vokal.

Karawitan Gending ==
Karawitan Gending merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya lebih mengutamakan unsur instrumental atau alat musik.

Karawitan Sekar Gending ==
Karawitan Sekar Gending adalah salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya terdapat unsur gabungan antara karawitan sekar dan gending

Pengertian dari karawitan itu sendiri secara khusus dapat diartikan sebagai Seni Musik Tradisional yang terdapat di seluruh wilayah etnik Indonesia.

Penyebaran seni karawitan terdapa di Pulau [[Jawa]], [[Sumatra]], [[Pulau Madura|Madura]] dan [[Bali]]. Karawitan memainkan alat musik bernama [[gamelan]], sebagai contoh [[Gamelan Pelog|Gamelan Pelog/Salendro]], [[Gamelan Cirebon]], [[Gamelan Degung]] dan [[Gamelan Cianjuran]] (untuk bentuk sajian ensemble/kelompok). Dalam prakteknya, karawitan biasa digunakan untuk mengiringi tarian dan nyanyian, tapi tidak tertutup kemungkinan untuk mengadakan pementasan musik saja.

Kamis, 23 Februari 2012

Sekilas tentang Niccolo Paganini


Hidup Paganini
Niccolò Paganini dilahirkan di Genoa pada 27 Oktober 1782, oleh pasangan Antonio dan Teresa (sebelumnya Bocciardo) Paganini. Menurut penulis biografinya [[Peter Lichtenthal]], pertama kali Paganini belajar bermain [[mandolin]] ialah diajari oleh ayahnya pada saat ia berusia lima tahun, lalu pindah ke biola pada usia tujuh dan mulai mengarang pada saat ia berusia delapan. Ia bermain di depan publik pertama kalinya pada waktu berumur 12 tahun. Di masa mudanya ini, ia belajar dari berbagai guru, termasuk [[Giovanni Servetto]] dan [[Alessandro Rolla]], namun ia tidak dapat menguasai dirinya sendiri seiring dengan kesuksesannya; pada umur 16 tahun ia suka bermain judi dan minum minuman keras. Pada waktu itulah kariernya diselamatkan oleh seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya, yang membawa Paganini ke rumahnya dimana Paganini pulih dari kebiasaan buruknya dan kembali belajar biola selama tiga tahun. Ia juga bermain gitar pada saat itu.

Ia kembali muncul ke khalayak publik pada saat ia berusia 23 tahun, dengan menjadi direktur musik saudara perempuan [[Napoleon]], [[Elisa Baciocchi]], Putri dari Lucca, pada saat ia tidak tur. Tidak lama kemudian ia menjadi legenda karena kemahirannya bermain biola yang tidak tertandingi, dengan debutnya ke [[Milan]] pada [[1813]], [[Vienna]] [[1828]], dan [[London]] serta [[Paris]] pada [[1831]]. Paganini adalah salah satu orang pertama, bahkan mungkin orang pertama, yang melakukan tur sebagai artis solo, tanpa pemain musik pengiring. Ia menjadi salah seorang 'superstar' pertama-tama dalam hal konser publik. Ia menjadi kaya dan terkenal sebagai pemain musik tur, dan tidak terkalahkan dalam hal memikat pendengarnya.

Sebuah mitos yang merebak luas tentang Paganini ialah bahwa ia menjual jiwanya kepada [[setan]] sebagai ganti teknik bermain biolanya, sebuah rumor yang mana ia sendiri merasa tersanjung, dan bisa jadi dimulai oleh dirinya sendiri. Pada saat ia bermain musik, bola matanya akan berputar sampai ke belakang, sehingga hanya tampak putihnya. Cara berdirinya yang lenggang, dengan rambut tipis panjang dan kusut, serta postur tubuhnya yang kurus cekung, semakin menambah rumor tentang dirinya. Ia bermain begitu bersemangatnya hingga para wanita terjatuh pingsan dan para pria akan menangis tersedu-sedu.

Biola yang dipakai Paganini dikenal sebagai [[Cannone Guarnerius]], nama yang diberikan paganini untuk mencerminkan suara 'cannon' yang dikeluarkannya. Senarnya hampir berada pada satu permukaan datar, kebalikan dari semua biola yang lain dimana senarnya membentuk satu lengkungan untuk menghindari menggesek senar yang lain. Dengan demikian Paganini dapat memainkan tiga bahkan empat senar secara mudah pada biolanya.

Di Paris pada [[1833]], ia memesan sebuah musik konser biola dari [[Hector Berlioz]], yang akhirnya menghasilkan ''Harold di Italy'' (''Harold in Italy'') untuknya, namun Paganini tidak pernah memainkannya.

Kesehatannya mulai menurun setelah ia didiagnosis penyakit [[kanker tenggorokan]]. Penyakitnya membuatnya kehilangan kemampuan berbicara, namun ia tetap bermain biola hingga akhir hayatnya. Malam terakhir sebelum kematiannya dikatakan bahwa ia masih berusaha bermain biola secara tidak sadar. Ia meninggal di [[Nice]] pada 27 Mei 1840.

[[Berkas:Niccolo Paganini.jpg|thumb|right|Niccolò Paganini]]
Musik orkestra Paganini dinilai sopan, tidak bertele-tele, dan suportif. Kritik mengatakan bahwa musik konsernya menggunakan terlalu banyak kata-kata dan terlalu menggantungkan kepada formula tertentu: salah satu bagian terakhirnya sering kali digantikan dengan yang lain. Selama kariernya, bagian biola dari konsernya disimpannya sendiri. Paganini akan melatih orkestranya tanpa memainkan bagian biolanya secara keseluruhan. Menjelang ajalnya, hanya dua yang telah diterbitkan. Keturunan dari Paganini dengan cerdiknya menerbitkan satu demi satu, setelah jeda waktu beberapa tahun. Saat ini ada enam konser musik Paganini yang telah diterbitkan (walaupun dua yang terakhir kehilangan bagian orkestranya). Komposisinya yang sering menggunakan alat musik gitar dan senar, terutama biola, telah menjadi bagian dari [[repertori]] baku.

Paganini juga mengembangkan jenis musik variasi konser untuk biola solo, dengan cara mengambil tema yang sederhana dan naif, dan variasi lirik yang berselang-seling dengan memainkannya dengan semangat yang menyala-nyala yang membuat pendengarnya menganga mulutnya.

Minggu, 19 Februari 2012

Sekilas tentang franz liszt


Liszt menjadi terkenal di Eropa pada abad kesembilan belas untuk keterampilan virtuoso sebagai seorang pianis. Dia dikatakan oleh orang sezamannya telah menjadi pianis yang paling maju secara teknis usianya. Pada tahun 1840-an ia dianggap oleh beberapa orang mungkin pianis terbesar sepanjang masa. [12] Dia juga seorang komposer terkenal, guru piano, dan konduktor. Dia dermawan untuk komposer lainnya, termasuk Richard Wagner, Hector Berlioz, Camille Saint-Saëns,Edvard Grieg dan Alexander Borodin. [13]
Sebagai komposer, Liszt adalah salah satu wakil yang paling menonjol dari"Neudeutsche Schule" ("Sekolah Jerman Baru"). Ia meninggalkan sebuah badan yang luas dan beragam pekerjaan di mana ia dipengaruhi berwawasan ke depan nya sezaman dan diantisipasi beberapa abad ke-20 ide-ide dan tren. Beberapa kontribusi paling terkenal adalah penemuan puisi simfoni, mengembangkan konseptransformasi tematik sebagai bagian dari eksperimen dalam bentuk musik dan membuat keberangkatan radikal dalam harmoni. [14] Dia juga memainkan peran penting dalam mempopulerkan berbagai macam musik dengan menyalin untuk piano.

Kehidupan awal

Nenek moyang paling awal dari Liszt adalah kakek buyutnya, Sebastian Daftar, yang merupakan salah satu dari ribuan budak migran Jerman bermigrasi secara lokal dalam Kekaisaran Austria wilayah 's (sekitar wilayah yang sekarang merupakan Lower Austria dan Hongaria), pada semester pertama abad ke-18, dan meninggal pada tahun 1793 di Rajka, Moson County, Kerajaan Hungaria. [16] Kakek Liszt adalah seorang pengawas di perkebunan Esterhazy beberapa, ia bisa memainkan piano, biola dan organ. [17] Klan Liszt tersebar di seluruh Austria dan Hungaria dan secara bertahap kehilangan kontak satu sama lain. [18]
Franz Liszt lahir Marie Anna Lager dan Ádám Liszt pada tanggal 22 Oktober, 1811 di Desa Doborján ( [19] ) di Sopron County, di Kerajaan Hongaria. [20] Ayahnya akan menggunakan hanya bahasa Hungaria ketika berhadapan, sebagai pelayan, dengan rakyat desa di mana keluarga menetap. [21]
Ayah Liszt memainkan piano, biola, cello, dan gitar. Dia telah dalam pelayananPangeran Nikolaus II Esterhazy dan tahu Haydn, Hummel dan Beethoven pribadi.Pada usia enam, Franz mulai mendengarkan dengan penuh perhatian permainan piano ayahnya dan menunjukkan minat di kedua suci dan musik Romani. Adam mulai mengajar piano pada usia tujuh, dan Franz mulai menulis secara dasar ketika ia berusia delapan. Ia tampil dalam konser di Sopron dan Pozsony ( [22] ; kini Bratislava, Slovakia) pada bulan Oktober dan November 1820 pada usia 9. Setelah konser, sekelompok sponsor kaya ditawarkan untuk membiayai pendidikan musik Franz luar negeri.
Di Wina, Liszt menerima pelajaran piano dari Carl Czerny, yang di masa muda sendiri telah menjadi mahasiswa Beethoven dan Hummel. Dia juga menerima pelajaran dalam komposisi dari Antonio Salieri, yang saat itu musik direktur pengadilan Wina. Debut publik-Nya di Wina pada tanggal 1 Desember 1822, di sebuah konser di "Landständischer Saal," adalah sukses besar. Dia disambut di kalangan aristokrat Austria dan Hungaria dan juga bertemu Beethoven danSchubert. [23] Pada musim semi 1823, ketika satu tahun cuti berakhir, Adam Liszt meminta Pangeran Esterhazy sia-sia selama dua tahun lagi. Adam Liszt lalu meninggalkan pelayanan sang Pangeran. Pada akhir April 1823, keluarga kembali ke Hongaria untuk terakhir kalinya. Pada akhir Mei 1823, keluarga pergi ke Wina lagi.
Menjelang akhir 1823 atau awal 1824, pertama komposisi Liszt diterbitkan muncul di media cetak, Variasi pada Waltz dengan Diabelli (sekarang S. 147), yang Variasi 24 di Bagian II dari Vaterländischer Künstlerverein. Ini antologi, ditugaskan oleh Diabelli, termasuk 50 variasi waltz nya sebesar 50 komposer berbeda (Bagian II), Bagian I yang diambil oleh 33 Beethoven variasi pada tema yang sama, yang sekarang lebih dikenal dengan Variasi Diabelli, Op. 120.

Masa remaja di Paris

Setelah kematian ayahnya Liszt pindah ke Paris, karena lima tahun ke depan dia tinggal dengan ibunya di sebuah apartemen kecil. Dia menyerah tur. Untuk mendapatkan uang, Liszt memberikan pelajaran dalam bermain piano dan komposisi, sering dari pagi hingga larut malam. Siswa-Nya yang tersebar di seluruh kota dan ia sering harus menutup jarak jauh. Karena itu, ia terus jam pasti dan juga mengambil merokok dan minum-semua kebiasaan dia akan terus sepanjang hidupnya. [24] [25]
Tahun berikutnya ia jatuh cinta dengan salah seorang muridnya, Caroline de Saint-Cricq, putri Charles X menteri perdagangan. Namun, ayahnya bersikeras bahwa perselingkuhan dipatahkan. Liszt jatuh sakit parah, sampai-sampai pemberitahuan obituari dicetak di surat kabar Paris, dan ia menjalani periode panjang keraguan agama dan pesimisme. Ia kembali menyatakan keinginan untuk bergabung dengan Gereja tetapi dia dibujuk kali ini oleh ibunya. Dia memiliki banyak diskusi denganAbbé de Lamennais, yang bertindak sebagai ayah rohaninya, dan juga denganChrétien Urhan, seorang pemain biola kelahiran Jerman yang memperkenalkan diake-Simonists Saint. [26] Urhan juga menulis musik yang anti-klasik dan sangat subyektif, dengan judul seperti Elle et moi, La Keselamatan Angélique dan Les Menyesal, dan mungkin telah whetted selera Liszt muda untuk romantisme musik.Sama pentingnya untuk Liszt adalah kejuaraan sungguh-sungguh Urhan dari Schubert, yang mungkin telah merangsang pengabdian sendiri seumur hidupnya untuk musik yang komposer. [27]
Selama periode ini Liszt membaca secara luas untuk mengatasi kurangnya pendidikan umum, dan ia segera datang ke dalam kontak dengan banyak penulis dan seniman terkemuka pada zamannya, termasuk Victor Hugo, Alphonse de Lamartine dan Heinrich Heine. Dia terdiri praktis tidak ada di tahun-tahun ini. Namun demikian, Revolusi Juli 1830 mengilhaminya untuk sketsa Symphony Revolusioner berdasarkan peristiwa "tiga hari yang mulia," dan ia mengambil peran lebih besar terhadap kejadian di sekitarnya. Dia bertemu Hector Berlioz pada 4 Desember, 1830 sehari sebelum premier dari fantastique Symphonie. Berlioz musik yang membuat kesan kuat pada Liszt, terutama nanti ketika ia menulis untuk orkestra.Dia juga diwarisi dari Berlioz kualitas kejam dari banyak karya-karyanya

Minggu, 12 Februari 2012

Sekilas belajar Bass Gitar

Dalam permainan slap kita tidak boleh sembarang untuk memainkannya. Tidak sembarang pukul dan sembarang tarik, melainkan ada yang harus diperhatikan diantaranya, mekanisme dan scale dalam permainan slap itu sendiri. Berikut saya akan berbagi tentang mekanisme dan scale itu sendiri. . . 



Mekanisme Slap:
1. Menggunakan kekuatan pergelangan tangan

biasanya mekanisme ini digunakan untuk slap2 yang butuh kecepatan tinggi ataupun teknik yang sulit seperti down up pluck,double pluck,dll sehingga tidak perlu menggunakan motion dan power tangan yang berlebih

2. Menggunakan kekuatan lengan tangan

kalo mekanisme ini untuk slap yang cenderung lebih perkusif seperti slap2 marcus miller ( pattern2 drum) sehingga mempunyai hentakan yang lebih terasa dan lebih bertenaga. Kalau Flea gabungan keduanya, kalau dia butuh slap bertenaga dia pake tenaga dari lengan, kalau mau yang lebih speed dia pake tenaga dari pergelangan tangannya..

Slap Scale:

latihan slap berikut ini bisa di jadikan pilihan apabila teman2 bassist semua ingin bermain nada2 yang biasa dimainkan dengan finger menjadi lebih variatif dengan slap..

contoh : C major scale

nada senar teknik
---------------------------------------
C A DOWN
D A UP
E D PLUCK
F D DOWN
G D UP
A G PLUCK
B G DOWN
C G UP

contoh 2 : C minor scale ( Aeolian )

nada senar teknik
-------------------------------------
C A DOWN
D A UP
Eb A PLUCK
F D DOWN
G D UP
Ab D PLUCK
Bb G DOWN
C G UP

Sabtu, 11 Februari 2012

Sekilas tentang Gambang


Gambang kromong (atau ditulis gambang keromong) adalah sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan [1]. Sebutan gambang kromong diambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong. Awal mula terbentuknya orkes gambang kromong tidak lepas dari seorang pemimpin komunitas Tionghoa yang diangkat Belanda (kapitan Cina) bernama Nie Hoe Kong (masa jabatan 1736-1740)[2].

Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu, manggarawan atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh pencon). Tangga nada yang digunakan dalam gambang kromong adalah tangga nada pentatonik Cina[1], yang sering disebut salendro Cina atau salendro mandalungan. Instrumen pada gambang kromong terdiri atas gambang, kromong, gong, gendang, suling, kecrek, dan sukong, tehyan, atau kongahyan sebagai pembawa melodi.

Orkes gambang kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa tampak pada alat-alat musik gesek yaitu sukong, tehyan, dan kongahyan. Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendaharaan lagu-lagunya. Di samping lagu-lagu yang menunjukkan sifat pribumi, seperti lagu-lagu Dalem (Klasik) berjudul: Centeh Manis Berdiri, Mas Nona, Gula Ganting, Semar Gunem, Gula Ganting, Tanjung Burung, Kula Nun Salah, dan Mawar Tumpah dan sebagainya, dan lagu-lagu Sayur (Pop) berjudul: Jali-jali, Stambul, Centeh Manis, Surilang, Persi, Balo-balo, Akang Haji, Renggong Buyut, Jepret Payung, Kramat Karem, Onde-onde, Gelatik Ngunguk, Lenggang Kangkung, Sirih Kuning dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Tionghoa, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya, seperti Kong Ji Liok, Sip Pat Mo, Poa Si Li Tan, Peh Pan Tau, Cit No Sha, Ma Cun Tay, Cu Te Pan, Cay Cu Teng, Cay Cu Siu dan sebagainya.

Lagu-lagu yang dibawakan pada musik gambang kromong adalah lagu-lagu yang isinya bersifat humor, penuh gembira, dan kadangkala bersifat ejekan atau sindiran[1]. Pembawaan lagunya dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuan sebagai lawannya[1].

Gambang kromong merupakan musik Betawi yang paling merata penyebarannya di wilayah budaya Betawi, baik di wilayah DKI Jakarta sendiri maupun di daerah sekitarnya (Jabotabek). Jika terdapat lebih banyak penduduk peranakan Tionghoa dalam masyarakat Betawi setempat, terdapat lebih banyak pula grup-grup orkes gambang kromong. Di Jakarta Utara dan Jakarta Barat, misalnya, terdapat lebih banyak jumlah grup gambang kromong dibandingkan dengan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur[3].

Dewasa ini juga terdapat istilah "gambang kromong kombinasi"[4]. Gambang kromong kombinasi adalah orkes gambang kromong yang alat-alatnya ditambah atau dikombinasikan dengan alat-alat musik Barat modern seperti gitar melodis, bas, gitar, organ, saksofon, drum dan sebagainya, yang mengakibatkan terjadinya perubahan dari laras pentatonik menjadi diatonik tanpa terasa mengganggu[5]. Hal tersebut tidak mengurangi kekhasan suara gambang kromong sendiri, dan lagu-lagu yang dimainkan berlangsung secara wajar dan tidak dipaksakan

Kamis, 09 Februari 2012

Sekilas musik dan tarian

Sejarah musik tradisi Seni musik maupun bidang lainnya sangat berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Dibanyak tempat musik lahir dan berkembang dari kegiatan sehari-hari masyarakatnya sebagai contoh:
a.musik angklung dari jawa barat, semula alat musik ini digunakan sebagai alat tabuh tradisional ronda malam dan pada saat pesta panen atau perkawinan.
b.Musik gondang dari tapanuli, biasa dipakai dalam upacar-upacara masyarakat batak
c.Musik lesung( kotekan) dibeberapa daerah indonesia biasa dimainkan pada saat menumbuk paddi
d.Musik gamelan dari jawa& bali musik gamelan dijawa pada mulanya dipakai dalam uapacara-upacara kerajaaan didalam istana.sementara dibali, musik ini hanya dipakai dalam upacara-upacara umat hindu, seperti upacara siklus kehidupan manuisa
Musik gong luang dari bali musik tradisi ini sifatnya sacral dan umumnya digunakan untuk mengiringi upacara kematian

Musik sasando gong dari rote. Alat musik tradisional ini terbuat dari daun lontar yang banyak terdapat didaerah rote ini .musik ini biasa dipakai sebagai hiburan , pengiring tarian , upacara adat masyarakat rote

Sekilas kaitan musik dan tarian

Sejarah musik tradisi Seni musik maupun bidang lainnya sangat berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Dibanyak tempat musik lahir dan berkembang dari kegiatan sehari-hari masyarakatnya sebagai contoh:
a.musik angklung dari jawa barat, semula alat musik ini digunakan sebagai alat tabuh tradisional ronda malam dan pada saat pesta panen atau perkawinan.
b.Musik gondang dari tapanuli, biasa dipakai dalam upacar-upacara masyarakat batak
c.Musik lesung( kotekan) dibeberapa daerah indonesia biasa dimainkan pada saat menumbuk paddi
d.Musik gamelan dari jawa& bali musik gamelan dijawa pada mulanya dipakai dalam uapacara-upacara kerajaaan didalam istana.sementara dibali, musik ini hanya dipakai dalam upacara-upacara umat hindu, seperti upacara siklus kehidupan manuisa
Musik gong luang dari bali musik tradisi ini sifatnya sacral dan umumnya digunakan untuk mengiringi upacara kematian

Musik sasando gong dari rote. Alat musik tradisional ini terbuat dari daun lontar yang banyak terdapat didaerah rote ini .musik ini biasa dipakai sebagai hiburan , pengiring tarian , upacara adat masyarakat rote

Rabu, 08 Februari 2012

sekilas Musik untuk bayi



Umur bayi kami sudah 16 minggu.  Kata dokter, umur segitu bayi sudah bisa mendengar suara bundanya dan suara dari luar tubuh bundanya.  Beliau menyarankan agar didengarkan lagu-lagu yang bisa membuat respon pada bayi misalkan musik klasik  Mozart For Baby.

Menurut penelitian ilmiah, musik klasik berguna baik bagi ibu hamil dan bayi yang dikandungnya.Musik klasik bisa membantu ibu hamil untuk merilekskan badannya akibat otot-otot tubuh yang tegang karena membawa beban berat dalam kandungannya, sehingga tubuh juga akan rileks menghadapi masa persalinan.

Sedangkan bagi  bayi baik dalam kandungan maupun sudah lahir, musik klasik dapat membantu merangsang perkembangan otak dan indera pendengarannya. Musik klasik juga membuat bayi akan tidur dengan nyaman, rileks dan pulas. Bayi dalam kandungan pun sudah bisa tidur dan kebanyakan waktu yang digunakan di dalam rahim ya tidur. Eh, bayi dalam kandungan juga bisa bermimpi lho.

Kamis, 26 Januari 2012

Sekilas tentang notasi


Notasi balok

Notasi Gregorian awal notasi balok
Notasi Gregorian, ditemukan oleh Paus Agung Gregori pada tahun 590, adalah awal penulisan musik dengan not balok. Namun, Notasi Gregorian belum ada panjang nada (dinyanyikan sesuai perasaan penyanyi) dan masih dengan balok not yang 4 baris.
[[Berkas:gregorian chant.gif|200px|right|]]

Gambar sebelah: Diambil dari ''Kyrie eleison (Orbis factor)''.

Not balok yang sekarang ini telah sempurna sekali untuk musik dibandingkan Notasi Gregorian.

darah manis qu kau sperti madu

Unsur-unsur notasi balok
[[Berkas:Sistem not Sekunde Terts.PNG|thumb|[[Interval (musik)|Interval]] not antarspasi (atau antargaris) adalah [[terts]], sedangkan interval antara garis dan spasi adalah [[sekunde]].]]
Dalam notasi balok, sistem [[paranada]] bergaris lima digunakan sebagai dasar. Bersama dengan keterangan mengenai [[Tempo (musik)|tempo]], [[ketukan]], [[Dinamika (musik)|dinamika]], dan [[instrumentasi]] yang digunakan, not ditempatkan pada paranada dan dibaca dari kiri ke kanan. Durasi nada dilambangkan dengan [[nilai not]] yang berbeda-beda, sedangkan [[tinggi nada]] dilambangkan dalam posisi not secara vertikal pada paranada. [[Interval (musik)|Interval]] dua not yang dipisahkan satu garis paranada (yaitu berada pada dua spasi yang bersebelahan) seperti digambarkan pada ilustrasi di samping merupakan interval [[terts]], sedangkan interval antara not pada spasi dengan not pada garis adalah interval [[sekunde]]. [[Kunci (musik)|Tanda kunci]] pada awal paranada menunjukkan tinggi nada yang diwakili oleh garis dan spasi pada paranada tersebut. Pada gambar di samping, [[kunci-G]] digunakan, menandakan bahwa garis kedua dari bawah melambangkan nada ''g¹''. Dengan demikian, interval terts pada gambar di samping adalah pasangan nada ''a1–c2'', sedangkan interval sekunde merupakan pasangan nada ''a1–b1''. Not-not yang melambangkan tinggi nada di luar jangkauan kelima garis paranada dapat digambarkan dengan menggunakan [[garis bantu]] yang diletakkan di atas atau di bawah paranada.

Contoh penggunaan notasi balok
Penggunaan notasi balok dijelaskan dalam contoh yang diambil dari bagian awal karya [[Johann Strauss II|Johann Strauss]], ''An der schönen blauen Donau'' yang disederhanakan ([[Berkas:Loudspeaker.png]] [[:Media:Blue_danube.mid|perdengarkan]]).

[[Berkas:Blue danube easy.svg|thumb|right|400px|Bagian awal ''An der schönen blauen Donau'' yang disederhanakan.]]
# Di sebelah kiri atas pada awal lagu biasanya ditempatkan petunjuk [[Tempo (musik)|tempo]] (yaitu kecepatan lagu), seringkali dalam [[bahasa Italia]], yang di sini menunjukkan "tempo [[waltz]]". Selain itu juga terdapat penanda [[metronom]] dalam satuan BPM (''beats per minute''), di sini 142 ketukan per [[menit]].
# [[Tanda birama]] menunjukkan ritme lagu. Angka di bagian atas tanda birama menunjukkan jumlah ketukan per birama, sedangkan angka di bawah menunjukkan nilai not per ketukan. Tanda birama 3/4 di sini menunjukkan bahwa terdapat tiga ketukan dalam birama, satu ketukan kuat diikuti dua ketukan lemah, dan masing-masing ketukan bernilai not seperempat.
# [[Garis birama]] merupakan pemisah antar[[birama]].
# Pada bagian awal paranada terdapat [[kunci-G]] yang menandakan bahwa garis kedua dari bawah melambangkan nada ''g¹'' (ber[[frekuensi]] sekitar 418 [[Hertz|Hz]]).
# [[Tanda mula]] utama yang di sini terdiri dari dua tanda mula ''[[kres]]'' pada garis nada c dan f menunjukkan bahwa kedua nada tersebut dinaikkan setengah nada dalam semua oktaf (dimainkan sebagai nada cis dan fis) serta menunjukkan bahwa karya musik bersangkutan ber[[tangga nada]] D [[Tangga nada mayor|mayor]] atau B [[Tangga nada minor|minor]].
# Not pertama adalah not [[Nilai not|seperempat]] dengan nada d1, dengan [[Dinamika (musik)|dinamika]] (nyaring lembutnya suara) ''mf'' ([[bahasa Italia]], ''mezzo forte'': agak nyaring). Dapat dilihat bahwa not tersebut langsung diikuti garis birama walaupun tiga ketuk dalam birama tersebut belum selesai. Dengan demikian, karya ini dimulai bukan dengan ketukan pertama bertekanan, melainkan dengan ketukan ketiga lemah dalam suatu birama pembuka (''anacrusis'').
# Not kedua juga merupakan not seperempat dan bernada d1 yang jatuh pada ketukan pertama dalam birama berikutnya.
# Tanda ''[[legato]]'' menghubungkan not d1 tersebut dengan not fis1 dan a1, menandakan bahwa ketiga not tersebut harus dimainkan secara ''legato'' (sambung-menyambung).
# Pada birama berikutnya terdapat not setengah bernada a1 berdurasi dua ketukan.
# Berikutnya terdapat not seperempat dengan dua kepala not pada posisi nada fis2 dan a2, menandakan bahwa kedua nada tersebut harus dimainkan bersamaan. Di atas not tersebut terdapat tanda ''[[staccato]]'', menandakan bahwa not tersebut harus dimainkan secara ''staccato'' (terpisah nyata dari not sebelum dan sesudahnya).
# [[Tanda diam]] seperempat menandakan bahwa tidak ada nada yang dimainkan selama (dalam hal ini) satu ketukan.
# Di bawah tiga birama terakhir terdapat tanda ''[[decrescendo]]'', menandakan bahwa pada ketiga birama tersebut terdapat perubahan dinamika, yaitu dimainkan makin melembut (dapat juga ditulis ''decresc.'' atau ''dim.'', diminuendo).


Jumat, 20 Januari 2012

Sekilas tentang cadence



Dalam teori musik Barat, irama (Latin cadentia, "yang jatuh") adalah, "konfigurasi melodi atau harmonik yang menciptakanrasa ketenangan atau resolusi [finalitas atau jeda]." [1] Sebuahirama harmonik adalah perkembangan (setidaknya) dua akordyang menyimpulkan sebuah frase, bagian, atau bagian darimusik [2]. sebuah irama ritmis adalah pola ritmik karakteristikyang menunjukkan akhir sebuah kalimat. [3] irama memberikanfrase akhir yang khas yang dapat, misalnya, menunjukkan kepada pendengar apakah bagian tersebut akan dilanjutkan ataudisimpulkan. Sebuah analogi dapat dilakukan dengan tanda baca, [4] dengan beberapa irama lemah bertindak sebagaikoma yang menunjukkan jeda atau istirahat sesaat, sementarairama kuat bertindak sebagai periode yang sinyal akhir fraseatau kalimat. Sebuah irama diberi label lebih atau kurang"lemah" atau "kuat" tergantung pada rasa finalitas itu menciptakan. Sementara irama biasanya diklasifikasikan olehakord progresi tertentu atau melodi, penggunaan progresitersebut tidak selalu merupakan irama-harus ada rasapenutupan, seperti pada akhir frase. Ritme harmonik memainkanbagian penting dalam menentukan mana irama terjadi.
Irama adalah metode utama yang digunakan dalam musik tonaluntuk menciptakan rasa bahwa seseorang pitch pitch tonik atau pusat dari suatu bagian atau bagian [1]. Edward Lowinskyberpikir bahwa irama adalah [5] "buaian nada suara."




Senin, 09 Januari 2012

Sekilas tentang gamelan


Elsje Plantema tetap melihat manfaat gamelan bagi para mahasiswanya. Bahkan menabuh gamelan itu disebutnya sebagai pelajaran yang berguna sekali. Itu karena, berlainan dengan musik Barat yang mereka tekuni sehari-hari, dalam belajar menabuh gamelan, para mahasiswa diwajibkan untuk menghafal.
“Tidak pakai notasi,” tegas Elsje. “Kalau pakai notasi boleh, tapi setelah belajar. Kalau sudah di rumah mau bikin notasi silahkan.”
Ia lebih senang kalau mahasiswanya membuat notasi sendiri di rumah, sebab selesai belajar menabuh gamelan para mahasiswa ini langsung menekuni jenis musik lain. Notasi bikinan sendiri itu bisa digunakan sebagai pegangan kalau kembali menekuni gamelan. “Tapi tidak kalau sedang menabuh,” tegas Elsje.
Kalau mengajar gendhing tertentu, misalnya Ketawang Puspåwarnå, Elsje mengajarkan balungan dengan mendengarkan bonang. Ia lalu menyanyikan melodi yang ditabuh bonang. Semua ikatan yang ada antara ricikan-ricikan juga diajarkannya. Itu berarti mahasiswa harus mendengar masing-masing ricikan itu.
Atau kalau ada plèsètan kenong, mahasiswa juga diminta mendengarkannya, dan bereaksi.
Elsje merasa gamelan bisa menjadi semacam obat tenang. Dalam musik Barat, kalau perasaan ritme atau irama tidak kuat, maka seseorang cenderung menabuh terlalu cepat. Kalau itu sampai terjadi dalam gamelan, maka musiknya akan rusak. Berarti seseorang harus menabuh gamelan dengan tenang.
“Kita harus tenang,” tegas Elsje. “Duduk juga harus tenang dan dalam keadaan seperti itu saya rasa pelajaran gamelan adalah kesempatan bagus untuk belajar tenang dan juga bekerjasama”.
Belajar berarti saling mendengar, demikian Plantema berlanjut, juga tanpa perasaan bahwa instrumen yang saya tabuh penting sekali. Tapi memang, Elsje Plantema mengakui ada satu instrumen penting, itulah gong ageng.
Dalam satu gendhing, saat penabuh gong ageng paling jarang dibandingkan dengan instrumen lain. Tapi paling penting. Terus instrumen yang paling sering ditabuh, sebetulnya kurang penting. Gendèr juga penting sekali. Tapi Elsje tetap berpendapat seseorang tidak bisa bilang penabuh nomer satu ini, nomer dua itu.
Semua sama rata.
Suara jelek
Dalam meminta mahasiswa menghafal gendhing yang dipelajarinya, Elsje Plantema selalu mulai dengan memberi contoh, kemudian tiap-tiap instrumen mendapat perhatian khusus, dicoba satu per satu sampai baik. Kalau masih ada mahasiswa yang minta mengulang satu nomer lagi, maka Elsje meneruskan permintaan itu kepada pemain lain, kalau semua setuju maka latihan menabuh satu karya gendhing akan diteruskan.
Begitulah, semua diulang-ulang sampai mahasiswa pengikut mata kuliah gamelan benar-benar bisa menabuh. Di sini sang ibu dosen gamelan menandaskan pentingnya kebersamaan.
Yang jelas tidak ada satu pemain tertentu yang penting sebagai solis. Mungkin untuk bukå memang butuh bonang atau gendèr. Jadi bisa dibilang pada saat itu menabuh sendiri. Tetapi itu tidak berarti ini solo, itu hanya pembukaan. Apalagi cuma sebentar, terus kendhang masuk, lalu semua instrumen lain juga masuk.
Jadi solo itu hanya beberapa detik.
Dalam menabuh gamelan selama beberapa detik itu seseorang tidak boleh membaca notasi. Dia harus belajar dengan contoh dan meniru contohnya. Tapi itu tidak berarti Elsje Plantema anti notasi.
“Saya juga pakai notasi untuk penjelasan. Kalau mau menjelaskan teknik bonang atau peking, praktis sekali pakai notasi, sebab bisa dilihat.” Tapi tidak untuk praktek menabuh gamelan. Elsje tidak akan pernah membagi-bagi notasi sebelum menabuh.
“Pasti suaranya jelek,” katanya. Menurut pengalamannya, kalau ada notasi para mahasiswa pasti hanya akan menekuni notasi, mereka akan menabuh secara individual. Padahal dalam menabuh gamelan yang diperlukan adalah kontak dengan pemain lain.
Notasi itu cuma akan mengalihkan perhatian yang sebenarnya harus diarahkan pada mendengar dan merasakan bunyi-bunyi instrumen lain.
Kesulitan besar
Tidak jarang Elsje menghadapi mahasiswa yang belum-belum sudah mengeluh tidak bisa menghafal. Dia tahu keluhan macam itu tidak benar. “Itu hanya anggapan, atau belum percaya diri,” katanya. Setiap orang bisa menghafal. “Ada yang cepat, ada yang sedeng, ada yang pelan, tapi itu juga tidak apa-apa,” katanya lagi.
Dalam rombongan gamelan, kalau ada seorang yang agak pelan maka yang lain harus sabar, sampai semua bisa. Kesabaran itu akan membawa hasil yang jauh lebih baik.
Gendhing itu tidak hanya akan dibawa masuk ke dalam telinga, tapi tangan dan badan juga akan dibiasakan dengan motoriknya. Dengan begitu selesai liburan panjang, dua bulan, pada bulan September, biasanya Elsje melihat para mahasiswa itu berpikir, “wah saya lupa semua”.
Itu juga tidak betul. Sebab sebenarnya gendhing itu sudah ada di dalam telinga dan badan, jadi setelah mulai menabuh mereka biasanya bilang, “oh ya, oh ya!” Dan ternyata semua masih ada!
“Tapi, kalau main hanya dari notasi dan notasinya hilang, maka pasti mereka akan kesulitan besar. Tidak bisa menabuh,” ujar Elsje Plantema. Dalam mengajar ia ingin menyimpan karawitan itu di dalam kalbu mahasiswanya, tidak di dalam buku.
Kalau buku bisa hilang atau ketinggalan atau dicuri. Tapi apa saja yang ada di dalam diri seseorang tidak akan hilang.
Di Konservatorium Amsterdam Elsje Plantema mengajar bukan hanya mahasiswa dari Belanda, banyak juga dari negara-negara lain. Mereka belajar gamelan bukan sebagai mata kuliah wajib, tapi mata kuliah pilihan. Tahun ini ada dua mahasiwa dari Yunani, empat dari Jepang, Prancis, Belgia, Inggris.
Ini faktor lain yang menyenangkannya. Karena tugas utamanya adalah menyatukan mahasiswa dari pelbagai penjuru dunia dalam satu grup gamelan yang kompak. Elsje suka sekali melihat proses itu tiap tahun.
Pertama kali masuk mereka belum saling kenal dan belum komunikasi, tapi setelah mengikut kuliah menabuh gamelan selama tiga bulan, mereka sudah bisa dikatakan menjadi satu grup.
Tidak logis
Elsje Plantema mengajar gendhing lanceran yang ada vokalnya, misalnya Witing Klåpå, Gugur Gunung, tapi juga gendhing yang berisi imbalan. Witing Klåpå, Gugur Gunung punya imbalan saron, kemudian keplok tangan (tepuk tangan), dan vokal. Dengan variasi yang beragam ini mahasiswa biasa tertarik.
Menurutnya, kebanyakan mahasiswa yang memilih gamelan biasanya pintar dalam bidang musik.
Selain itu, Elsje juga memperkenalkan tangga nada sléndro dan pélog, ditambah beberapa struktur lain. Artinya, tidak hanya lanceran, tapi juga ketawang, ladrang. Ia lebih suka ketawang yang tenang seperti puspanjålå. Yang tidak dilupakannya adalah karya terkenal Ki Nartosabdho: Swårå Suling.
Elsje Plantema tidak menerjemahkan semua istilah bahasa Jawa tadi, ketika mengajarkannya pada para mahasiswa. “Untuk apa saya terjemahkan lanceran atau ketawang atau ladrang? Itu tidak logis.” Artinya para mahasiswa ini harus tahu. Juga pada ujian mereka harus bisa menjelaskan apa itu lanceran, bagaimana strukturnya dan seterusnya.
“Setiap murid harus tahu. Kalau lanceran berarti kempulnya begini, kenong seperti itu, bonang seperti itu,” tandasnya. Kalau tidak tahu maka komunikasi akan sulit. “Bagaimana kalau saya minta mahasiswa menabuh slenthem, kalau dia belum tahu apa itu slenthem?”
Professor Teeuw Prijs
Hari-hari ini, suka cita Elsje Plantema tidak juga berakhir, bahkan seolah tanpa batas. Ia menerima anugerah hadiah Professor Teeuw Prijs. Baginya ini adalah seperti realisasi apa yang dicoba untuk disampaikannya dalam berkarya. Ini adalah juga pengakuan bagi 40 tahun berkutat, mendalami dan menekuni gamelan.
Tidak disangkanya semua itu sudah 40 tahun. Ia masih ingat benar ketika pada bulan Desember 1969 dia pertama kali mendengarkan gamelan. Bukan pertunjukan tapi hanya rekaman. Jantungnya berdegub keras. “Saya tertarik. Saya ingin tahu itu semua. Istilah gamelan saja saya belum tahu. Tapi telinga dan badan saya bereaksi dengan hebatnya. Sampai saya pikir, saya harus menabuh musik itu.”